Susah sangat ke?

Jika di hitung nikmat Allah pada kita, pasti tak kan mampu dhitung..


Nikmat iman, nikmat islam, nikmat rezeki, nikmat kesenangan, nikmat kesihatan, nikmat kemakmuran… dan berbagai nikmat lagi..


Tapi…

Tetapi...

Namun…


Sejauh manakah kita berterima kasih pada Allah atas nikmat nikmat itu?

Sebanyak manakah ucapan syukur kita pada Allah?


Saya pulangkan jawapannya pada diri anda sendiri dan juga diri saya…

Cuma ada beberapa pertanyaan yang ingin saya utarakan…


Payah benarkah untuk kita mempersembahkan solat yang kusyuk pada Allah?

Tidak mampukah kita menahan sedikit rasa mengantuk kita semata mata untuk bertahajud kepada Allah?

Tidak bolehkah kita sakit tekak sedikit kerana membaca surat cinta dari Allah?

Susah sangat ke untuk kita mengingat Allah di sela sela waktu kelapangan kita?


Susah sangat kah?

Payah benar kah?

Tersiksa sangat kah?

Untuk berkorban sedikit sahaja pada Allah?


Sedangkan, lihatlah betapa sayangnya Allah pada kita, segala gala nya dibentangkan dengan cukup indah pada kita, segala urusan dipermudahkan untuk hamba hambanya, segalanya Allah kurniakan agar hamba hamba Nya bahagia

Agar hamba hamba Nya gembira…

Agar hamba hamba Nya tenang…


Subhanallah…

Alhamdulillah…

Allahuakbar…


Berkorbanlah untuk Allah sebagai tanda bersyukur kita pada Nya…

Cintailah Allah, kerana Allah sangat menyayangi kita…


“Ya Allah, aku cinta pada Mu..”

Benarkah?



“Salam. Bleh tak gantikan halaqah saya?”


Send


…….


Tet tet..


“Maaf, saya tak dapat gantikan halaqah awak. Saya ada urusan lain.”


Saya menekan butang reply.


“Kenape…”


Saya kembali menekan butang delete.


Arrrghhh, terkilannya hati saya. Terbayang wajah adik adik yang menantikan sentuhan tarbiyah, huluran tangan seorang daei. Tapi apakan daya saya berada jauh di Perak menjalankan urusan dakwah yang lebih urgensi.


Terkilannya saya…


Benarkah kita sudah mengorbankan apa yang kita ada untuk Allah? Benarkah kita sudah jatuh cinta dengan Allah? Benarkah?


Kenapa susah benar hendak mengorbankan sedikit masa untuk Allah? Kenapa banyak benar alasan tatkala diminta menjalankan amanah dakwah?


Sedangkan jalan dakwah itulah jalan Allah, jalan yang pernah dilalui oleh Rasulullah, jalan yang mengantarkan kita dekat dengan Allah. Jika mahu disayang Allah, jika mahu dikasihi Rasulullah, maka jalankanlah amanah dakwah ini sebaik mungkin.


“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keredhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba hambaNya.” (2:208)


Ya Allah, aku persembahkan hidupku pada Mu…

Ya Allah, aku korbankan segala yang aku ada untuk Mu…

Ya Allah, aku rela mati demi Mu, kerna aku rindu untuk berjumpa dengan Mu…

Anak anak ku..





5 Bekal Istri Aktivis Dakwah


Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur.


Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu?


Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.


Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:


1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).


Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!


2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.


Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.


3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).


Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!


4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).


Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!


5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).


Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.


Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?


Sumber: Dakwatuna, (Oleh: Dra. Anis Byarwati, MSi.)

Jejak Gemilang 09

“Na, macamana mung bleh berubah?”

Tanya seorang kawan lama saya dengan nada serius. Kami satu kelas di tingkatan 5 mutanabbi dulu. Saat ini kami dipertemukan Allah bersempena Program Jejak Gemilang anjuran alumni sekolah kami.

Saya memandangnya sambil tersenyum. Keadaan dewan yang agak bising, seperti tidak memberi apa apa impak pada perbualan kami. Kemudian saya mengalihkan pandangan saya. Saya merenung jauh, cuba mengingat kembali detik detik yang pernah saya lalui suatu ketika dulu.

Fikiran saya berputar putar mengingat peristiwa 3 tahun lalu yang banyak mengubah hidup saya, pendirian saya, dan haluan saya. Satu persatu saya ceritakan padanya agar bisa dia mengambil ibrah dari kisah hidup yang telah Allah aturkan untuk saya.

Walaupun saya bukanlah berasal dari keluaga yang berfikrah islam, maksud saya islam hanya pada nama, namun Allah telah memilih saya pertama tamanya untuk kenal DIA, kemudian jatuh cinta padaNYA..

Saat saya berumur 18 tahun, barulah saya kenal siapa saya, siapa tuhan saya dan untuk apa saya dihidupkan di atas muka bumi ini. 18 tahun lamanya saya menghambakan diri pada dunia, hidup tanpa arah yang jelas dan tiada apa apa prinsip yang dipegang walaupun pada zahirnya saya adalah seorang pelajar sekolah agama. (SMKA Wataniah)

Tetapi dek kerana luasnya rahmat Allah pada hamba hambanya, akhirnya saya kini berada di suatu jalan yang pada zahirnya kelihatan sangat susah, xbest, menyakitkan tapi sebenarnya pada batin jalan inilah yang mengantarkan saya pada Allah. Jalan inilah yang benar benar memberikan saya satu kenikmatan dan kepuasan dalam hidup. Jalan inilah yang banyak mematangkan saya. Jalan ini jugalah jalan yang pernah dilalui oleh para RasulNYA. Jalan iinilah yang membahagiakan saya kerana saya bisa mendapatkan redhaNYA. Jalan inilah saya bisa makin mengenali dan mencintai Kekasih awal dan akhir saya yakni Allah swt. Jalan ini a.k.a jalan dakwah dan tarbiyah.

Ya Allah, betapa saya bersyukur dengan kurniaan ini, tiada kata bisa saya lafazkan untuk saya gambarkan saat ini.

Erm, berbalik pada Program Jejak Gemilang yang saya sertai ni, banyak perkara yang agak mengejutkan saya tatkala kembali menjejakkan kaki ke sekolah yang telah 4 tahun saya tinggalkan. Antaranya:

1. Sekolah saya bertukar dari sekolah agama biasa kepada sekolah kluster. Ape ke mende nye kluster tu yeop? Tatau ler…
2. Disebabkan menjadi sekolah kluster, so semua pelajar wajib duk hostel. Jadi bile sampai je kat sekolah, terkejut den melihat construction yang sangat pesat sedang di jalankan. Umpama membina sebuah lapangan terbang.
3. Satu yang paling mengejutkan dan menyedihkan saya adalah akhlak pelajar sekolah tu semakin mengecewakan. Tatau la di mana silapnye, tapi kalau di imbas kembali, ketika batch saya dulu SPM 2005, xdelah seteruk deme ni. Dengan tidak menghormati seniornya, dah x pakai stoking g klas, tudung pun dah semakin singkat, keadaan dewan makan dan asrama yang tersangat kotor.. aduhai..

Alhamdulilah. Dengan kesempatan yang Allah berikan untuk saya menjadi panel forum pada pagi jumaat, 19hb jun, saya gunakan sebaik baiknya untuk mendekati adik adik dan saya cuba dengan cara termampu untuk menasihati mereka. Alhamdulilah, respon yang diberikan agak baik. Insyaallah sementara masih ada sebulan kat rumah ni, saya akan teruskan halaqah bersama mereka agar dalam masa sebulan ni saya diberi kesempatan oleh Allah untuk sedikit sebanyak mengubah akhlak mereka. Ameenn..